Beda Pilihan Pilkades, Rumah Lansia di Pasirtanjung Dibongkar dan Dibangun Kembali Relawan Ombi Bin Anden

0

Beda Pilihan Pilkades, Rumah Lansia di Pasirtanjung Dibongkar dan Dibangun Kembali Relawan Ombi Bin Anden

Penahitam.com // CIKARANG PUSAT – Perbedaan pilihan politik dalam Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Pasirtanjung, Kecamatan Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi, memicu persoalan yang menyita perhatian warga.

Seorang lansia bernama Ibu Anah, warga Kampung Paparean, Desa Pasirtanjung, disebut mengalami tekanan terkait persoalan rumahnya yang kemudian dibongkar pada bagian tertentu dan dibangun kembali.

Persoalan tersebut mencuat setelah Amung, anak Ibu Anah, mengaku mendapat tekanan dari pihak yang diduga merupakan bagian dari tim pendukung salah satu calon kepala desa.

Amung menunjukkan percakapan melalui aplikasi WhatsApp yang menurut keterangannya berkaitan dengan persoalan pembongkaran rumah. Dalam pesan tersebut tertulis, “Lamun embung dibongkar bayar ka Haji.”

Amung mengaku pesan itu membuat dirinya dan keluarga merasa tertekan. Ia berharap perbedaan pilihan dalam Pilkades tidak berkembang menjadi tindakan yang dapat merugikan atau menekan warga.

‎“Beda pilihan seharusnya jangan sampai membuat masyarakat tertekan. Pilihan politik merupakan hak masing-masing warga,” ucap Amung.

‎Mengetahui kondisi tersebut, salah satu ketua relawan, Aep, bersama sejumlah relawan tim kemenangan Ombi Bin Anden kemudian turun langsung membantu keluarga Ibu Anah.

‎Para relawan tidak hanya membantu proses pembongkaran bagian rumah yang dianggap bermasalah, tetapi juga bergotong royong membangun kembali rumah tersebut agar dapat kembali ditempati secara layak.

‎Proses pengerjaan bahkan dilakukan hingga malam hari. Para relawan terlihat bahu-membahu mengerjakan rumah tersebut dengan menggunakan tenaga dan sumber daya yang mereka miliki.

‎Bagi keluarga Ibu Anah, bantuan tersebut menjadi bentuk kepedulian di tengah persoalan yang mereka hadapi.

‎“Terima kasih kepada rekan-rekan relawan yang sudah berjuang dan membantu rumah Ibu Anah. Semoga semua kebaikan ini mendapat balasan yang setimpal,” ungkap pihak keluarga.

‎Peristiwa tersebut sekaligus menjadi sorotan mengenai pentingnya menjaga suasana demokrasi tetap sehat selama tahapan Pilkades berlangsung.

‎Perbedaan pilihan semestinya tidak menjadi alasan untuk melakukan tekanan, intimidasi, ataupun tindakan yang berpotensi merugikan warga.

Di tengah kompetisi politik tingkat desa, masyarakat diharapkan tetap dapat menggunakan hak pilihnya secara bebas sesuai hati nurani tanpa rasa takut maupun tekanan dari pihak mana pun. (RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *