Akibat Beda Pilihan Pilkades, Rumah Lansia di Pasirtanjung Dibongkar‎

0

Akibat Beda Pilihan Pilkades, Rumah Lansia di Pasirtanjung Dibongkar

Penahitam.com // CIKARANG PUSAT – Perbedaan pilihan politik dalam Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Pasirtanjung, Kecamatan Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi, mencuat setelah sebuah rumah milik seorang lanjut usia (lansia) di Kampung Paparean dilaporkan dibongkar.

Peristiwa tersebut menjadi perhatian warga lantaran muncul dugaan persoalan mengenai status lahan tempat rumah itu berdiri. Informasi yang dihimpun menyebutkan, sebagian lahan yang digunakan untuk bangunan tersebut diklaim sebagai milik pihak tertentu.

Persoalan itu kemudian dikaitkan dengan dinamika dukungan politik dalam kontestasi Pilkades Pasirtanjung. Namun, kaitan antara persoalan lahan dan perbedaan pilihan politik tersebut masih perlu diklarifikasi kepada seluruh pihak yang berkepentingan.

‎Dalam situasi tersebut, pemilik rumah yang diketahui telah lanjut usia disebut menghadapi pilihan untuk membongkar bangunan atau memenuhi tuntutan terkait penggunaan lahan.

‎Kondisi itu sontak memunculkan keprihatinan. Di tengah pesta demokrasi desa, persoalan politik semestinya tidak berkembang menjadi konflik sosial yang justru membuat warga kecil menanggung dampaknya.

Calon Kepala Desa Pasirtanjung nomor urut 2, Ombi Bin Anden, mengingatkan agar perbedaan pilihan tidak menjadi alasan untuk memutus rasa kemanusiaan dan persaudaraan antarwarga.

“Demokrasi adalah tidak membuat kita terpecah. Berbeda pilihan adalah hal yang wajar, tetapi jangan sampai perbedaan pilihan berujung pada hilangnya rasa kemanusiaan dan persaudaraan,” ujar Ombi.

Ombi bersama tim Gerecep kemudian mendatangi lokasi untuk melihat langsung kondisi sang lansia. Setelah melihat keadaan tempat tinggal tersebut, Paslon 02 bersama tim memberikan bantuan dengan membangun kembali bagian hunian yang dibutuhkan agar sang nenek tetap memiliki tempat tinggal yang layak.

‎Langkah tersebut menjadi bentuk kepedulian terhadap warga yang terdampak sekaligus pesan bahwa kompetisi politik di tingkat desa tidak seharusnya menghilangkan solidaritas sosial.

‎Peristiwa di Kampung Paparean pun menjadi pengingat bahwa Pilkades bukan sekadar pertarungan memenangkan suara. Di balik setiap angka dalam daftar pemilih, terdapat hubungan keluarga, tetangga, dan kehidupan sosial yang harus tetap dijaga.

‎Siapa pun yang akhirnya mendapat mandat masyarakat, demokrasi di tingkat desa seharusnya meninggalkan persaudaraan yang semakin kuat—bukan luka sosial yang berkepanjangan. (Jonta)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *