Alarm Demokrasi Desa: Catatan Kritis Abie FU Menjelang Pilkades 2026-2034
Alarm Demokrasi Desa: Catatan Kritis Abie FU Menjelang Pilkades 2026-2034
KABUPATEN BEKASI – Di tengah riuhnya persiapan pemilihan kepala desa (Pilkades) periode 2026-2034, Abie FU, sosok yang dikenal luas sebagai pegiat lingkungan dan pemerhati sosial, melayangkan kritik tajam. Baginya, kontestasi politik tingkat desa saat ini bukan lagi sekadar adu gagasan, melainkan telah bergeser menjadi ajang yang mengancam keutuhan struktur sosial masyarakat.
Demokrasi yang Tercederai: Ancaman di Balik Kotak Suara
Abie FU menyoroti bahwa esensi demokrasi yakni kebebasan memilih tanpa intimidasi, kini sedang berada di titik nadir. Ia secara tegas menolak segala bentuk tekanan dari pihak tertentu yang mencoba mengarahkan suara warga dengan cara-cara yang tidak elegan.
“Demokrasi kita sedang cacat,” ujar Abie dengan nada prihatin. “Seharusnya, perbedaan pilihan adalah kekayaan, bukan alasan untuk diskriminasi. Sangat miris melihat ada pihak-pihak yang secara sistematis menekan warga hanya karena mereka tidak mendukung atau memilih calon tertentu.”
Luka Sosial: Ketika Keluarga Menjadi Lawan
Abie FU menyoroti fenomena yang ia sebut sebagai “luka sosial permanen”. Dalam pengamatannya, polarisasi saat ini sudah masuk ke ranah yang sangat privat. Bukan rahasia umum lagi bahwa di desa-desa, perbedaan pilihan politik telah merobek kerukunan tetangga, bahkan memutus tali persaudaraan dalam satu keluarga.
“Jangankan dengan tetangga, di dalam rumah tangga pun banyak yang saling memusuhi, saling diam, dan saling hujat hanya karena beda kotak pilihan. Inilah dampak nyata dari politik yang tidak sehat; ia menyisakan residu kebencian yang akan sulit disembuhkan bahkan setelah Pilkades selesai,” sesalnya.
Menjamurnya “Kader Bayaran” dan Budaya Saling Hujat
Keprihatinan Abie semakin mendalam melihat munculnya fenomena “kader bayaran” atau tim sukses yang secara masif bergerak dengan agenda pragmatis, bukan visi membangun desa. Keberadaan mereka, menurut Abie, telah merusak nalar sehat warga.
Lebih buruk lagi, ia menyoroti perilaku para bakal calon (balon) yang justru memberikan contoh buruk. Alih-alih berkompetisi dengan memaparkan program kerja yang solutif, para calon ini terjebak dalam perang opini, saling hujat, dan menjatuhkan lawan demi ambisi kemenangan sesaat. Hal ini dianggap Abie sebagai kemunduran mentalitas kepemimpinan desa.
Pesan Moral Abie FU: Kembali ke Nurani dan Akal Sehat
Menutup opininya, Abie FU memberikan seruan keras kepada seluruh lapisan masyarakat untuk tidak larut dalam permainan politik yang kotor. Ia menekankan bahwa Pilkades adalah gerbang menentukan masa depan desa selama 8 tahun ke depan.
“Pilihlah pemimpin bukan karena intimidasi, bukan karena imbalan, dan bukan karena ikut-ikutan. Gunakan hati nurani dan akal sehat kalian. Carilah sosok yang jujur, amanah, dan memiliki integritas untuk menjaga lingkungan serta mensejahterakan warga. Jangan gadaikan masa depan desa kita hanya demi ego politik sesaat. Jadilah pemilih cerdas yang mampu menjaga kerukunan di atas segala perbedaan.”
Catatan untuk Masyarakat:
Pilkades 2026-2034 adalah cermin kedewasaan kita. Mari kita buktikan bahwa warga desa tidak bisa dibeli dan tidak mudah dipecah belah oleh kepentingan yang mencederai demokrasi.
(Redaksi)
