Mahasiswa KKN UPB Ciptakan Inovasi Pengolahan Sampah Plastik Menjadi BBM Alternatif di Desa Cikedokan
Mahasiswa KKN UPB Ciptakan Inovasi Pengolahan Sampah Plastik Menjadi BBM Alternatif di Desa Cikedokan
KABUPATEN BEKASI – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Pelita Bangsa (UPB) Tahun 2026 menghadirkan inovasi pengolahan limbah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM) alternatif melalui teknologi pirolisis di Desa Cikedokan, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi.
Program tersebut menjadi salah satu inovasi unggulan KKN UPB sebagai upaya memberikan solusi terhadap persoalan sampah plastik yang selama ini menjadi tantangan serius bagi lingkungan. Selain membantu mengurangi volume limbah, inovasi ini juga membuka peluang pemanfaatan energi alternatif yang memiliki nilai ekonomis bagi masyarakat.
Ketua Kelompok KKN Universitas Pelita Bangsa Desa Cikedokan, Mukhlis Agung Wicaksono, menjelaskan bahwa teknologi pirolisis merupakan metode pengolahan limbah plastik melalui proses pemanasan bersuhu tinggi tanpa adanya oksigen sehingga menghasilkan minyak yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif.
“Penerapan teknologi pirolisis ini diharapkan dapat menjadi solusi dalam mengurangi penumpukan sampah plastik sekaligus menghasilkan bahan bakar alternatif yang memiliki nilai manfaat bagi masyarakat. Kami ingin menunjukkan bahwa sampah plastik bukan hanya menjadi masalah, tetapi juga dapat diolah menjadi sumber energi yang bernilai,” ujar Mukhlis di Posko KKN Desa Cikedokan, Jumat (31/7/2026).
Menurutnya, proses pirolisis dilakukan dengan memanaskan limbah plastik pada suhu sekitar 300 hingga 600 derajat Celcius di dalam reaktor kedap udara. Dalam kondisi tanpa oksigen tersebut, plastik akan terurai menjadi uap hidrokarbon yang kemudian dialirkan menuju kondensor untuk didinginkan hingga berubah menjadi cairan minyak.
Minyak hasil pirolisis memiliki karakteristik yang menyerupai bensin, solar, maupun minyak tanah, bergantung pada jenis plastik yang digunakan serta proses penyulingan yang dilakukan.
Mukhlis menjelaskan, pengolahan limbah plastik menjadi BBM alternatif dilakukan melalui beberapa tahapan. Proses diawali dengan pemilahan sampah plastik yang dapat diolah, seperti kantong kresek, kemasan makanan, hingga jenis botol plastik tertentu.

Selanjutnya, limbah plastik dimasukkan ke dalam reaktor tertutup untuk dipanaskan secara bertahap tanpa adanya oksigen. Setelah meleleh dan menghasilkan uap hidrokarbon, uap tersebut dialirkan ke sistem pendingin (kondensor) hingga mengembun menjadi cairan minyak.
Tahap berikutnya adalah proses penyulingan atau destilasi untuk memisahkan fraksi minyak berdasarkan titik didihnya sehingga dapat menghasilkan berbagai jenis bahan bakar, seperti bensin, solar, maupun minyak tanah.
Sementara itu, Humas KKN Desa Cikedokan, Ali Harjono Gultom, mengatakan bahwa teknologi pirolisis memiliki berbagai keunggulan, terutama dalam mengurangi volume limbah plastik yang sulit terurai sekaligus memberikan nilai tambah melalui pemanfaatan energi alternatif.
“Teknologi ini bukan hanya membantu mengurangi pencemaran lingkungan akibat sampah plastik, tetapi juga membuka peluang ekonomi melalui pemanfaatan limbah menjadi produk yang lebih bermanfaat,” ujarnya.
Meski demikian, Ali menegaskan bahwa minyak hasil pirolisis masih memerlukan proses pemurnian lanjutan serta pengujian kualitas, termasuk uji emisi dan standar keselamatan, sebelum dapat digunakan secara optimal pada kendaraan bermotor modern.
Melalui program inovasi tersebut, Mahasiswa KKN Universitas Pelita Bangsa berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah berbasis teknologi sekaligus mendorong lahirnya inovasi-inovasi ramah lingkungan yang mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Program ini juga menjadi wujud komitmen Mahasiswa KKN Universitas Pelita Bangsa dalam mendukung pembangunan berkelanjutan melalui pengurangan limbah plastik, pengembangan energi alternatif, serta pemberdayaan masyarakat berbasis inovasi di Desa Cikedokan.
Selain menjadi sarana edukasi, inovasi ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat maupun pemerintah desa untuk mengembangkan pengelolaan sampah yang lebih produktif, sehingga limbah plastik tidak lagi dipandang sebagai masalah, melainkan sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi dan manfaat bagi lingkungan. ( Rbn / Red )
