Nasabah PNM ULaMM Bali Sukses Olah Limbah Kayu Jadi Kerajinan Ekspor

0

Tegallalang — PENAHITAM.COM – Di balik keindahan pantai Bali yang terkenal hingga ke mancanegara, terdapat persoalan lingkungan yang kerap menjadi perhatian, salah satunya tumpukan limbah kayu laut yang terbawa ombak dan menepi di pesisir pantai. Kayu-kayu bekas yang terdampar itu biasanya dianggap sebagai sampah yang mengganggu kebersihan kawasan wisata, termasuk di sejumlah pantai wilayah Tabanan dan sekitarnya.

Namun bagi Wayan Sudira, limbah kayu tersebut justru menjadi sumber inspirasi dan peluang usaha yang mampu mengubah kehidupan banyak orang. Di tangan pria asal Bali itu, potongan kayu laut yang semula tidak bernilai berhasil diolah menjadi berbagai kerajinan artistik bernilai tinggi melalui usaha yang ia bangun, Ulu Sari Handicraft.

Dengan ketelatenan dan kreativitas, Wayan mengubah kayu-kayu yang terbawa arus laut menjadi dekorasi rumah, ukiran, ornamen seni, hingga berbagai produk kerajinan khas Bali yang memiliki nilai jual tinggi di pasar internasional. Produk-produk tersebut kini telah dipasarkan ke berbagai negara seperti Selandia Baru, Australia, Prancis, Belgia, Belanda, Jerman, hingga Amerika Serikat.

Bagi Wayan, usaha yang ia jalankan bukan hanya tentang keuntungan ekonomi semata. Ia ingin membuktikan bahwa sesuatu yang dianggap sampah dan tidak berguna masih dapat diolah menjadi karya yang memiliki manfaat bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.

“Kayu-kayu ini awalnya hanya dianggap limbah pantai. Tapi kami mencoba melihatnya dari sisi yang berbeda. Dengan sentuhan kreativitas, ternyata bisa menjadi produk yang diminati banyak orang, bahkan sampai ke luar negeri,” ujar Wayan.

Perjalanan Ulu Sari Handicraft dimulai dari proses sederhana. Wayan bersama beberapa pekerja mengumpulkan kayu-kayu yang terdampar di pantai, membersihkannya, memilih material yang masih layak digunakan, kemudian mengolahnya menjadi produk kerajinan dengan sentuhan seni khas Bali.

Usaha tersebut perlahan berkembang seiring meningkatnya permintaan pasar terhadap produk ramah lingkungan dan berbahan alami. Konsumen mancanegara tertarik pada karakter unik setiap produk yang dibuat dari kayu laut, karena setiap potongan kayu memiliki bentuk dan tekstur berbeda yang tidak bisa ditemukan pada produk pabrikan.

Sejak bergabung sebagai nasabah PNM ULaMM (Unit Layanan Modal Mikro) pada tahun 2017, Wayan mendapatkan akses pembiayaan dan pendampingan usaha yang membantu perkembangan bisnisnya menjadi lebih terarah. Dukungan tersebut dimanfaatkan untuk memperkuat produksi, memperluas jaringan pemasaran, hingga meningkatkan kualitas produk agar mampu bersaing di pasar ekspor.

Kini, Ulu Sari Handicraft telah memiliki dua workshop yang berlokasi di Singaraja dan Tegallalang. Usaha tersebut juga mampu membuka lapangan pekerjaan bagi sekitar 45 karyawan yang berasal dari masyarakat sekitar.

Menariknya, sebagian pekerja yang kini bergabung merupakan warga yang sebelumnya kehilangan pekerjaan akibat dampak pandemi COVID-19. Di tengah kondisi ekonomi yang sulit saat itu, usaha kerajinan berbasis limbah kayu ini justru mampu menjadi ruang harapan baru bagi banyak keluarga.

Saat banyak usaha mikro dan kecil mengalami penurunan selama pandemi, permintaan terhadap produk Ulu Sari Handicraft justru meningkat dari pasar internasional. Hal itu membuat usaha Wayan tetap bertahan bahkan terus berkembang hingga sekarang.

Bagi Wayan, capaian tersebut merupakan bentuk rasa syukur atas perjalanan usaha yang dijalaninya selama ini. Ia meyakini bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan niat baik akan membawa manfaat tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain.

“Semua ini titiang yakini karena jalan Tuhan. Dari kayu yang terbuang, astungkara bisa menjadi rezeki untuk keluarga, untuk karyawan, dan untuk orang-orang di sekitar. Jadi yang bisa kami lakukan adalah terus bersyukur, menjaga kepercayaan, dan bekerja sebaik-baiknya,” tutur Wayan.

Kisah Wayan menjadi contoh nyata bagaimana pemberdayaan UMKM mampu menghadirkan dampak luas, tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga sosial dan lingkungan. Limbah pantai yang sebelumnya menjadi persoalan kini dapat diolah menjadi produk bernilai, membuka lapangan pekerjaan, membantu masyarakat sekitar, sekaligus mendukung upaya menjaga kebersihan lingkungan pesisir.

Semangat tersebut juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta poin 14 mengenai pelestarian ekosistem laut. Melalui kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan, usaha kecil seperti Ulu Sari Handicraft mampu memberikan kontribusi nyata dalam menjaga keberlanjutan alam.

Melalui dukungan pembiayaan dan pendampingan dari PNM, semakin banyak pelaku UMKM diharapkan dapat tumbuh dan berkembang bersama masyarakat di sekitarnya. Sebab ketika sebuah usaha bertumbuh, yang ikut bergerak bukan hanya pemilik usaha, tetapi juga keluarga, lingkungan, hingga harapan banyak orang yang bergantung pada keberlangsungan usaha tersebut.

#PNMuntukUMKM
#PNMPemberdayaanUMKM
#UMKMIndonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *